Menjauhkan Dari Rasa Malas

istiqomahMalas dan menunda-nunda pekerjaan adalah tabu bagi para ulama. Itulah sepenggal kalimat yang saya simpulkan ketika browsing mengenai ulama. Tentu bukan sembarangan ketika saya mencoba mencari contoh yang bisa ditiru dengan mudah di zaman ini. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam adalah yang paling utama, berikutnya para sahabat, tabiut tabiin, dan para ulama yang mengikuti 3 generasi yang saya sebutkan sebelumnya.

Sewaktu lulus dari kuliah dan mulai bekerja untuk pertama kalinya saya merasakan betapa enaknya orang yang bekerja, waktunya sangat sangat luang. Karena saya membandingkan dengan kegiatan waktu kuliah yang sangat padat dengan balajar, tugas-tugas, dll. Tapi ternyata setelah mulai menyelami bekerja hingga sekarang saya merasa waktu semakin sedikit.

Fenomena ini saya coba analisa beberapa kali ternyata memang tabiat malas itu selalu hinggap dalam diri manusia. Ini bukan hal yang mudah untuk melawan kemalasan terutama konsistensinya (istiqomah). Saat ini cara yang saya anggap dapat mengurangi rasa malas adalah dengan membuat progress kinerja harian di excel dalam google doc. Namun itu cuma media yang ternyata ga bisa banyak mengurangi rasa malas. Apalagi di hadapan kita media internet menjadi salh satu musuh besar dalam fokus bekerja.

Alhamdulillah, dalam seminggu terakhir ini memang saya mencoba untuk menganalisa contoh para ulama yang sempat membuat saya tercengang terhadap adab dan prilaku mereka sehari-hari. Sudah saya katakan sebelumnya bahwa rasa malas selalu hinggap dalam diri manusia dan gradasi konsistensi melawan kemalasan menunjukan kualitas manusianya sendiri. Ulama abad ini seperti Bin Baz, Albani, Saikh Utsaimin dan banyak lainnya memberikan satu hal yang saya lupakan dalam melawan kemalasan ini…. ya… memohon pertolongan pada Allah.

Itu ternyata yang baru saya temukan jawabannya… hiks … selama ini saya mencari berbagai cara agar konsistensi ibadah dan bekerja dan terhindar dari kemalasan, dan kemalasan itupun masih hadir juga. Saya lupa, ketika berdoa, doa ini terlupakan.. atau mungkin tidak dihayati. Doa memohon pertolongan Allah agar dihindarkan dari kemalasan. Padahal doa ini selalu Rasulullah Shalallahualaihi wasalam panjatkan setiap pagi.

Alhamdulillah, terlambat masih lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali.. Semoga anda merasakan juga hidayah yang baru saya terima ini :) .. amin

Progress Bahasa Arab-Perlu Pemaksaan :)

munch_2013_04_19_091726 (1)Hingga pekan ke 3 ini saya baru menyadari bahwa memang harus ada “pemaksaan” untuk belajar bahasa baru, khususnya bahasa arab yang memang lebih kompleks dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Setiap harinya 3 bahan mufrodat dikirimkan oleh ustadz via BBM group dan pada hari itu juga kita harus menyetor mufrodat tersebuat dengan bantuan arabicpad ke room yang telah ditentukan. Kegiatan ini cukup efektif karena akhirnya kita “dipaksa” untuk menghafal kata (mufrodat) sekaligus huruf yang merangkainya. Sudah kita ketahui semua bahwa bahasa arab itu bisa jadi bunyinya hampir sama tapi huruf yang merangkai dan tajwidnya bisa beda…  inilah kenapa perlu kesabaran dalam belajar bahasa arab hehe..

Di hari Senin dan Kamis ustadz mengirimkan memberikan pengajaran mufrodat ungkapan. Materi ini biasanya sudah mulai merangkaikan kata benda dengan kata kerja. Alhamdulillah setiap picture materi yang dikirimkan selalu dilengkapi dengan voice note, sehingga kita bisa mendengar cara melafalkannya dari ustaz. Kita diberikan waktu hingga sore untuk mengirimkan voice note hafalan kita di hari-hari ini.

Setiap malam minggu dilakukan ujian mingguan dan akan dibahas di hari-hari selanjutnya. Waktu yang diberikan 15 menit.

Rangkaian pengajaran via BBM Group ini menurut saya salah satu inovasi yang kreatif dalam mengoptimalkan media teknologi. Apresiasi perlu diberikan kepada pengelola program ini yang juga membawahi radio rodja. Dengan pengajaran intens seperti ini, efektifitas pengajaran telah  sesuai dengan tujuannya. Pada awalnya saya merasakan sulit untuk mengikuti pelajaran karena kesibukan kegiatan sehari-hari, namun setelah “memaksakan” diri untuk mengikuti aturannya alhamdulillah sekarang lebih semangat dan mudah. Apalagi ustaznya terbuka untuk setiap pertanyaan, bahakan saya pernah menanyakan hal yang sangat awam dalam bahasa arab namun tetap dijawab dengan baik hehe..

Itu laporan minggu ini :)

Sekarang kami sudah dibekali sekitar 50 mufrodat dan beberapa ungkapan kalimat. Semoga ke depan makin mudah …

10 tahun yang lalu … 2002 :)

Saat itu sebagai mahasiswa tingkat 2 semangat belajar masih tinggi, mengingat masa2 SMU disadari banyak mainnya dan itu berbanding terbalik dengan prestasi sekolah. Tapi itu bukan berarti masa SMU hampa, malah luar biasa berwarna hehe .. Maklumlah semenjak SD sampai dengan SMP saya termasuk siswa rajin, otomatis berpengaruh terhadap prestasi sekolah.

Di masa mahasiswa itulah saya berusaha mengulang kembali masa2 SD dan SMP yang disiplin, rajin dan tekun. Kalo masalah otak siy saya anggap itu sudah dibagi rezekinya masing-masing oleh Allah, jadi satu2nya harapan adalah ya itu tadi disiplin, rajin, tekun. Ketiga hal itu saya yakini hingga kini, dan pengalaman hidup membuktikan bila ketiga hal itu ketemu dalam diri seseorang insha Allah tujuan tercapai. Tentu kalo doa ga perlu diobahas lagi, itu mah WAJIB.

Menariknya, di masa2 itu saya seringkali bercanda dengan sahabat seperjuangan mengenai kondisi kita saat itu. Kami anak kos di belakang fakultas teknik UI dan saat itu tempat kos masih murah meriah hehe.. saya ingat kamar saya hampir 90% terdiri dari triplek hehe.. sehingga waktu itu terpaksa pulang kampus siangnya jarang di kosan, kalo ga di perpus FEUI yang adem itu atau ngumpul di himpunan atau organisasi kampus. Malam baru pulang, itu pun masih terasa panasnya matahari Depok hehe.. trip[lek memang penyimpan panas yang efektif :)

Dengan kondisi saat itu saya sering becanda … ” eh, jangan liat sekarang, liat gw 10 tahun lagi hahah.. candaan  itu biasa saya lontarkan ke temen2 cewe kalo lagi ngumpul. Waktu itu ga dianggap serius siy, tapi memang kami semua saat itu menyimpan harapan besar di masa depan ata apa yang kita kerjakan saat itu .. yaitu belajar.

Sekarang, sudah 10 tahun berlalu dan alhamdulillah banyak hal telah terjadi. Namun, yang saya rindukan ternyata setelah 10 tahun berlalu adalah bukan apa yang kami hasilkan sekarang ini, melainkan harapan2 besar yang tertanam dalam hati dengan usaha disiplin, rajin dan tekun itu yang diinginkan. Hari ini memang banyak mengulas memori2 jaman dulu, tapi saya memang berusaha agar kekuatan harapan itu muncul lagi untuk menggapai cita2 di 10 tahun mendatang .. :)

well, mudah2an wordpress masih ada di 10 tahun yang akan datang sehingga saya bisa menuliskan apa saja yang sudah saya lakukan selama ini :) ..

Kk Kaffah … 2,4 bulan :)

Di awal usia 2 tahun KK sudah mulai merasakan perannya sebagai anak tunggal harus diilepas dan berganti menjadiseorang kakak. Memang jadi kasian juga, tapi peran barunya ini menjadikan jiwa raganya menunjukan percepatan dalam kemajuan bertindak, berpikir, dan emosional.

Hmmm… Semoga kelak ketika adiknya makin bertambah banyak, kk bisa semakin struggle dalam hidupnya.. :) life is so beautiful ..

Menuju Tennis Championship

Tinggal 3 minggu lagi waktu yang kami miliki untuk mempersiapkan diri menghadapi petenis dari perusahaan2 lain dalam pertandingan rutin tahunan. Boleh diobilang tim yang kami miliki saat ini lebih terlatih dibanding tahun2 sebelumnya. Hampir setiap minggu kami berlatih tenis double dan bertukar pasangan. Jadi sudah seharusnya untuk pertandingan kali ini rasa percaya diri lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Saya teringat tahun sebelumnya dimana tim ini memang seperti musim duren berlatihnya hehe … hingga akhirnya salah satu anggota tim mendapuk saya untuk menjadi ketua tim tenis perusahaan. Ternyata ini hanya strategi saja hehe… karena dengan saya menjadi ketua tim maka otomatis saya harus latihan dengan rajin. Ya saya akui yang biasa mangkir latihan adalah saya heheh… anyway strategi ini berjalan baik dimana akhirnya saya jadi rajin dan temen2 tambah rajin karena dari dulu mereka memang rajin hihih…

Semalam sengaja latihan diadakan untuk mempertajam dan konsistensi pukulan. Lumayan berkeringat .. bahkan saya perlu sparing partner dari cady yang ternyata mempunayi skill yahud dalam bermain tenis. Malam ini memang saya niatkan untuk menjadi pemain yang sering di depan net untuk potong bola atau volley. Ini saya lakukan setelah melihat rekaman2 tenis double internasional yang memang banyak menggunakan momentum di depan net untuk mengalahkan lawan, bahkan sudah umum dalam tennis double pemain yang mempunyai skill di depan net bakalan berpeluang menang.

Sampai dengan di game ke 2 saya masih berusaha berdiri di depan net, tapi saya sadar memang tipikal bermain saya belum terbiasa di depan net, sehingga sampai dengan game kedua pasangan kami kalah. Di game ke 3 saya rubah strategi untuk membuat mix antara berdiri dibelakang kemudian maju ke depan net ketika peluang volley lebih besar.. and its works :)

Hari ini saya sedang menunggu 3 keping DVD yang saya beli via online mengenai pertandingan tenis double plus tutorialnya untuk membuat strategi yang tepat. Satu hal yang sering kita lupa dalam pertandingan tennis … its just a game bro :) … jangan terlalu serius hehe..

Laporan Audit,Perlu Persetujuan Auditee ?

Di beberapa tempat training hal ini saya tanyakan berulang kali dan ada khilaf diantara aktivis audit hehe… Namun jawaban yang paling saya sukai adalah berdasarkan standar audit internal internasional (sy lupa nomor klausulnya) bahwa yang wajib adalah pembahasannya.

Ini penting karena seringkali auditee minta draft diserahkan ke mereka dulu sebelum terbit. Mungkin kalo sebagai auditor eksternal ini sudah lazim, namun bagi auditor internal ini akan memperpanjang birokrasi dan ujung-ujungnya laporan audit kita keburu basi :) ..

Saya coba beberapa kali metode ini dan ternyata responnya sesuai perkiraan  :) … auditee pada protes hehe… Karena sebelum2 ini memang biasanya mereka dimintakan persetujuan atau tandangannya. Walaupun saya tunjukan standar yang berlaku tetap saja itu sulit untuk diterima. Hal ini karena laporan audit akan langsung dibaca boss mereka, so mereka perlu beranggapan itu HARUS dicek auditee terlebih dahulu.

Ini tentu bikin repot auditee, tapi bagaimanapun kita juga ga bisa kaku asal main tebitkan, perlu diakomodir lah. Akhirnya saya bikin mix deh … tanpa memperlambat penerbitan laporan. Rencananya gini .. Pembahasan harus totaly disepakati bersama dan tidak ada lagi pembahasan lain selain yang sudah disepakati bersama. Kalo cuma perubahan tata kalimat siy its ok lah, asalkan jangan materinya. Kedua, hasil rapat saat itu juga ditanda tangani bersama di atas tulisan notulis. Ketika laporan akan diterbitkan kita kasi juga deh hasil draft akhir, tapi diberi tenggat waktu sehari atau 2 hari kepada auditee untuk baca. Itupun mereka hanya diberikan keleluasaan pada tata bahasa yang sifatnya tidak signifikan, karena mereka kan sudah tanda tangan di atas tulisan notulen sebelumnya.

Mungkin itu jalan keluarnya .. met bekerja :)