First Impression..

Saya teringat ketika mengikuti satu acara workshop persiapan bekerja (zaman masih kuliah) yang diadakan oleh salah satu organisasi mahasiswa di FEUI. Cukup menarik acaranya, karena ada sesi simulasi dimana ketika itu saya memberanikan diri menjadi peran seorang pencari kerja yang sedang melakukan presentasi di hadapan para employer. Ada beberapa apresiasi dari trainer yang diberikan kepada saya dan juga beberapa koreksi untuk diperbaiki. Satu hal yang penting dari simulasi tersebut adalah mengenai first impression atau penampilan pertama ketika berkomunikasi dengan seseorang atau lebih. Kenapa penting ? Karena saat itulah tercipta kesan pertama yang baik kepada lawan bicara kita.

Simulasi ketika itu saya coba ingat-ingat kembali, karena bagaimanapun juga pengalaman tersebut telah banyak membantu saya sebagai seorang fresh graduate untuk bersaing mendapatkan perusahaan-perusahaan yang saya inginkan. Beberapa waktu yang lalu saya ulangi lagi hal ini, karena saya akan melakukan presentasi pada dua lembaga pendidikan tinggi. Berbagai persiapan sudah saya lakukan, terutama substansi presentasi itu sendiri. Hasilnya….? Hehee.. tentu perlu ditanyakan kepada audiencenya..namun saya berusaha untuk optimis, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki tetapi saya juga mencoba memberi self motivation untuk lebih berani mengekspresikan diri.

Sebelumnya ada beberapa referensi yang saya gunakan dalam mempersiapkan pengajaran ini, salah satunya dari buku How to make people like you in 90 second or less” yang ditulis oleh Nicholas Boothman. Ia adalah seorang yang telah menggeluti profesi sebagai fotografer selama 25 tahun untuk para model internasional. Menurut Boothman, 90 detik pertama perjumpaan itu merupakan saat penting untuk menciptakan kesan yang baik. Buku ini pernah juga dibahas oleh Bisnis Indonesia dalam salah satu kolomnya.

Membuat percaya. Intinya Boothman menegaskan pentingnya membuat lawan bicara percaya melalui senyuman, kontak mata dan bahasa tubuh yang bersahabat dan tulus. Hal ini berlaku baik orang yang berkepribadian introvert maupun extrovert..so, kaum introvert tak perlu takut untuk mengikuti tips ini OK..bahkan ia pun memberikan pengalamannya sebagai fotografer, dimana agar terlihat lebih alamiah saat dipotret, dia menyarankan model itu membuka mulutnya dengan menyuarakan kata great, bukan chest.

Mudahnya orang-orang untuk berbicara dalam berbagai acara menjadi pertanyaan bagi saya betapa mudahnya mereka melakukan itu. Seringkali ketika kuliah dulu saya mengikuti seminar-seminar di UI, yang gratis tentunya hehe..baik di fakultas ekonomi maupun di beberapa fakultas lainnya, dengan sekedar hanya untuk melihat cara mereka berpresentasi. Ternyata menarik untuk dianalisa, baik dari lafal, gesture, mata, positive thinking, dll yang ternyata menjadi unsur-unsur penting dalam berkomunikasi.

Sebagian dari kita bahkan menganggap presentasi sebagai sesuatu yang menyeramkan. Dalam buku “Sukses melakukan Presentasi”, Pa’ Rhenald Kasali menceritakan ada temannya yang mengatakan bahwa ia lebih berani melahirkan bayi daripada melakukan presentasi. hmmmm…masa iya ya??coba tanya ibu-ibu yang lain dulu harusnya ya… Kalau melahirkan katanya, ia hanya harus menghadapi satu dua dokter, perawat, dan suami yang menemani. Mereka berada disana untuk membantu, bukan untuk mempersulit. Sebaliknya, ketika melakukan presentasi anda harus berhadapan dengan orang-orang yang karakternya bermacam-macam dan kadang bisa menyulitkan anda. Mereka datang untuk mengambil manfaat, bukan memberi. Fhiuuugh..tentunya orang-orang yang mendengarkan presentasi kita tidak seburuk itulah..masih banyak orang baik di negara kita heheh… Publik tidaklah menyeramkan daripada dokter bersalin, asalkan kita tahu cara menanganinya…gitu kata Pak Rhenald,btw..ngurusin scholarship mulu ya Pak Rhenald niy..kapan bagian saya Pak heheh..

Yup.. first impression walaupun sepertinya aga maksa, ternyata berguna juga ya. Layaknya orang yang jatuh hati pada pandangan pertama, biasanya karena orang tersebut mempunyai hal yang istimewa menurut yang memandangnya. Pernahkah anda mengalaminya??? Hehe..kalo berani mangga atuh sharing

 

One Response

  1. Saya percaya dan komunikasi bisa dilatih. Dan yang penting, antara konten dan konteks nya harus seimbang.

Leave a Reply