Fortis Imaginatio Generat Casum

Fortis Imaginatio Generat Casum adalah salah satu pepatah latin yang kurang lebih artinya adalah imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan. Ya .. mirip-mirip Hary Potter lah … Kalimat ini menunjukan betapa besarnya kekuatan imajinasi untuk diwujudkan dalam dunia nyata. Kenyataannya banyak tulisan yang lahir dari imajinasi seseorang yang pada akhirnya dapat membuat perubahan bagi pembacanya.

Problem yang sering hinggap pada seseorang yang baru mencoba membuat blog adalah produktivitas dalam menulis. Hal ini tidak heran karena untuk menulis diperlukan sikap disiplin yang cukup tinggi, dan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Inilah yang terjadi pada diri saya dalam beberapa minggu terakhir, banyak alasan yang bisa diungkapkan..tapi intinya adalah..saya belum membuat tulisan lagi hehe..Salah satu aktivitas yang cukup banyak mengambil jatah waktu yang 24 jam ini adalah pulang pergi kantor-rumah, hampir 4-5 jam, belum ditambah efek setelahnya yaitu kelelahan. Wajar, karena setiap hari saya melewati 3 kota di wilayah banten yang cukup istimewa. Harusnya 3 kota ini ikut serta dalam acara pemilihan 7 Keajaiban Dunia tanggal 7-7-2007 lalu di Lisbon Stadium of Light Portugal, sapa tau salah satunya bisa menang hehe…ya regenerasilah setelah Borobudur tergusur oleh Piramid Chichen Itza di Meksiko.

Anyway, sama sekali tidak ada sesal untuk menempuh ketiga kota ini, coz seimbang juga dengan yang saya terima, bisa nemenin ma’ mom heheh… Selama perjalanan pulang saya coba isi dengan hal yang (keliatan) lebih produktif seperti planning, rescheduling, guling dll, tapi ga optimal juga …ya lelah itu, so just enjoy the journey..sambil ngobrol dengan penumpang sebelah. Lucunya, di 3 kota itu sering kali banyak hal baru atau cuaca yang cukup menarik…seperti kemarin di kota pertama cuaca cukup panas, dan di kota selanjutnya hujan dengan angin yang cukup besar dan dingin, sampai kantor jadilah saya peramal (nebak tepatnya) cuaca yang cukup berpengalaman.

Kegiatan lainpun bertambah dimana saya juga aktif dalam CAS education (Centre for Accounting Studies), cukup menarik mendapatkan hal yang baru, ditambah tanggung jawab baru tentunya. Kegiatan-kegiatan ini mengingatkan saya pada film The Pursuit of happiness, dimana Will Smith memerankan sebagai pencari kerja, dan harus bekerja siang malam untuk bersaing dengan pesaingnya. Di lain pihak dia harus membagi waktu untuk menjemput anaknya di penitipan anak. Toh akhirnya dia bisa melewatinya dengan memanfaatkan waktunya dengan efisien..Mba Lisa Nuryanti pernah membahas hal ini, dengan menceritakan bagaimana si Will Smith dalam film itu sampai mengurangi minum agar tidak perlu sering buang air kecil. Dia menghitung bahwa hal itu bisa menghemat waktu selama sembilan menit. Wow..betapa orang tersebut sangat menghargai waktu yang mungkin jarang terpikirkan oleh kita.

Mungkin boleh dibilang ini hanya masalah adaptasi saja mengenai masalah waktu, sehingga saya memutuskan hari ini untuk menulis (apapun itu). Hal ini terdorong oleh tulisan para bloger lainnya mengenai motivasi menulis. Kalo masalah waktu sebenarnya setiap orang mempunyai problem yang sama sesuai proporsi harapan yang mereka buat, so introspeksilah kalo kita tidak sebaik orang lain dalam mengelola waktu. Mungkin ada baiknya juga kita mengubah zona waktu kita yang sudah tidak relevan lagi. Ini pernah dibahas dalam seminar “Dampak pembagian wilayah waktu di Indonesia terhadap pola konsumsi energy & kegiatan perekonomian Indonesia” oleh Indonesia Marketing Association (IMA). Usul dalam seminar itu adalah membagi Indonesia dengan 2 Zona waktu (WIB & WITA digabung). Sebelumnya Indonesia memiliki 6 zona waktu yang berbeda, kemudian tahun 1964 diubah menjadi 3 zona waktu yang berlaku hingga sekarang. Contoh dari usul ini akan terasa ketika anda mempunyai 2 perusahaan di Bali dan Jakarta. Pada saat perusahaan di Bali baru mulai bekerja, maka di Jakarta baru 1 jam kemudian dimulai. Begitupun ketika pulang kerja, saat di Bali kantornya tutup, maka di Jakarta baru 1 jam kemudian tutup. In total, grup perusahaan tersebut telah kehilangan 2 jam komunikasi setiap harinya!!hmmm..mungkin terlihat kecil tapi coba anda bayangkan ketika itu terjadi pada ribuan kantor dalam sehari…banyak perubahan yang bisa dilakukan.

Well..ini semua memang tidak mudah, tapi harus jalan juga toh..oya, ada satu lagi yang ingin saya bahas yaitu mengenai mood dalam menulis. Awalnya saya selalu menunggu mood dulu, apa kira-kira yang manarik untuk dibahas, membuat rencana-rencana, tapi saya merasa harus menunggu moodnya dulu..hasilnya ya hanya rencana-rencana saja. So, guys & gals…tidak ada waktu yang tepat selain memaksa untuk memulainya. Kalopun bingung mulainya, mulailah dengan standar rendah dengan mencoba membuat draft terlebih dahulu, kemudian barulah dipoles untuk jadi sempurna. Diperlukan disiplin memang dalam hal ini, kalo kata Anthony Dio Martin diperlukan sikap Contra Agere, yaitu melawan kecenderungan negatif. Kalo cenderung menunda pekerjaan, maka lawanlah dengan mengerjakannya dengan total.

Ahhhh..akhirnya…mudah-mudahan ini jadi trigger untuk mulai nulis lagi. Bagaimana dengan anda???

 

One Response

  1. He he sip sudah … alihkan yang sudah ditulis sepanjang perjalanan menjadi tulis, ke ‘blog’ misalnya. Jadilah. Selamat.

Leave a Reply