Supurb … Low Cost Carrier, Air Asia

Supurb..Pa’ Mario teguh seringkali mengatakan seperti itu untuk hal yang menarik (kadang aga maksa juga siy hehe..). Teman saya, sekarang sudah cukup handal menirukan gaya beliau ketika mengatakan : ”…jadi, bapak yang baik..(dengan suara bassnya)… atau : “supurb bapak… (dengan lembut dan ngebass, kadang mengangkat-angkat pundaknya)…hahah mudah-mudahan ga tersinggung ya, ini berarti brand image anda bekerja hehe..

Nah, saat ini ada juga perusahaan penerbangan yang bisa mendapatkan predikat supurb .. Perusahaan itu adalah PT. Indonesia Air Asia yang mulai familiar di telinga orang Indonesia. Llihat saja motonya : ..now everyone can fly… dan terbukti berhasil melakukan penetrasi di Indonesia. Sebelumnya saya hanya sekedar mendengar namanya saja dan tidak terlalu tertarik untuk menggunakan pesawat tersebut, apalagi situasi penerbangan sedang turun kinerjanya.

Bulan lalu kami mendapatan undangan untuk menghadiri pernikahan seorang teman di Padang, dan kita putuskan untuk mencoba menggunakan Air Asia dengan pertimbangan murahnya tiket dan bisa via internet. Selama perjalanan, operasionalnya tidak banyak perbedaan dengan pesawat yang sebelumnya pernah saya gunakan (FYI, ini hanya laporan pandangan mata). Perbedaan hanya terjadi pada service pendukungnya saja, apalagi lamanya perjalanan hanya 2 jam. Hmm..jadi penasaran, perlukah kita skeptis dengan pesawat ini??..tentu perlu, mari kita petakan….

Setelah cari-cari sumber, ternyata efesiensi biaya yang diterapkan oleh perusahaan ini tidak mengarah pada ala “kencangkan ikat pinggang” yang konvensional terjadi pada perusahaan di Indonesia lainnya, dimana mengecilkan hal-hal yang kelihatan gemuk (mungkin diet yang saya lakukan harus ikutin gayanya air asia hehe..saya yakin berat saya turun).

So pertanyaan penting kita adalah…Bagaimana Efesiensi mereka??

Ternyata..mereka lebih banyak melakukan efesiensi dengan konsep manajemen operasi yang cukup baik yaitu menggunakan pesawat sejenis dan memanfaatkan teknologi internet.

Kenapa harus pesawat sejenis ??

Karena hal tersebut akan menghemat biaya pelatihan dan perawatan. Bahkan, petinggi perusahaan tersebut pernah mengatakan pada satu surat kabar bahwa biaya terbesar adalah biaya pelatihan pilot yang bisa mencapai 60% dari keseluruhan biaya. Saya teringat pada asisten dosen saya dulu, dia bekerja di BUMN penerbangan kita di bagian costingnya, dan menurutnya cukup menarik untuk dipelajari costingnya untuk menghasilkan harga satu tiket..hmmm, sayangnya saya belum pernah menncoba untuk melamar pada peruusahaan tersebut, so kalo ada yang mo sharing pengalaman costing di perusahaan penerbangan saya sangat senang sekali..heheh

Kedua, dengan satu jenis pesawat, perusahaan mempunyai kekuatan tawar ke pabrik, sehingga harga sewa atau harga belinya lebih murah.

Biaya utilisasi juga mereka turunkan dengan cara menekan biaya pemasaran, so mereka memacu penumpang untuk memesan tiket lewat internet..hmmm mungkin bisa ditiru tuhhh..Saat ini pemesanan tiket via internet mencapai 65 % dari penjualan, dan idealnya pemesanan tiket via internet 90% katanya hmmm..

Selain itu, mereka juga berusaha memaksimumkan utilitas dengan mematok time around, yaitu sejak pesawat diparkir, didorong hingga siap terbang maksimum 25 menit. Ini terasa oleh saya ketika akan terbang ke Padang, dimana ketika itu saya melihat pesawatnya baru saja mendarat, dan tidak lama kemudian saya sudah masuk ke dalam pesawat itu dan terbang ke Padang. Yang lucunya melihat krunya dan pramugarinya..mereka seperi buru-buru sekali..hehe pekerja yang bersemangat…

Bahkan ketika pulang ke Jakarta, seorang teman ngobrol dengan pramugarinya (hmm..kenapa harus dengan pramugari??), katanya beberapa jam setelah sampai di Jakarta mereka akan langsung ke Malaysia..fhiuuugh supurb employee…bravo mba..

Ini mungkin yang terakhir dan aga lucu juga. Ketika kami sampai di Jakarta, turun dari pesawat dan menuju bandara menggunakan bis..tapi..yang mengherankan, bis tersebut lama sekali menempuh perjalanan menuju bandaranya, melewati parkiran pesawat TKI dan beberapa parkiran lainnya, kemudian barulah sampai di bandara…fiuuuhh sepertinya mereka cari parkiran yang murah kali ya..well said, its ok kita respect ko heheh..

Jenis penghematan ini sengaja saya uraikan disini, karena seringkali penghematan diartikan secara konvensional seperti yang dijelaskan sebelumnya. Terbukti dengan mengelaborasi unsur-unsur cost secara inovatif, perusahaan ini bisa berkembang dengan pertumbuhan penumpang yang cukup signifikan di tengah persaingan yang cukup ketat. Karena terbatasnya informasi yang saya dapatkan, saya belum menemukan data lainnya yang menunjukan dampak negatif dari penerapan penghematan ini. Tetapi pada intinya Air Asia telah berhasil meraih targetnya, walaupun ukurannya saat ini hanya berupa angka pertumbuhan penumpang.. two tumbs up for U , Air Asia…

2 Responses

  1. Yap … two tumbs up U, writer

  2. Terasa waktu bergerak begitu lamban … lama kali Mas Teguh

Leave a Reply