Sewaktu Lebaran, kami melakukan perjalanan menuju Bogor dan mampir ke sebuah resto yang paling sering dilihat di penjuru dunia…yupp McDonald.
“Cemilan” yang menurut sebagian orang lebih dikenal sebagai junk food. Anyway… toh penjualan untuk kawasan Asia Pasifik (including 105 resto yang ada di Indonesia) dari 2005-2007 naik terus tuh, dari USD 2,4 miliar dollar menjadi USD 3,134 miliar..ternyata angka berkata lain ya hehe..
Letak resto ini berada tepat di sebelah gerbang Alam Sutra Serpong dengan dinding kaca yang transparan ditambah beberapa unit komputer yang (sepertinya) sengaja diperkenalkan bagi anak-anak (of course untuk mengenalkan produk mereka lah). Waktu itu kita ga sempat berlama-lama, jadi langsung makan di mobil.
Weekend kemarin saya baru selesai baca novel yang didalamnya ada bahasan Big Mac juga, yaitu Travelers Tale dan 5 cm, isinya cukup fresh dengan ungkapan konyol sekaligus brilliant.
Travelers Tale menceritakan petualangan keempat sahabat yang menuju Barcelona untuk menghadiri pernikahan sahabat mereka si Francis, dengan bumbu-bumbu romantisme ala remaja (dewasa). Salah satu tips perjalanan yang cukup kental di novel ini adalah sebisa mungkin berhemat..!! dan untuk itu… tidak lain dengan makan junk food yang pada tahun 2007 total berjumlah 31.377 resto di seluruh dunia !!! .. Indonesia mah cuma 0,3 %nya !!. (tapi perasaan banyak amat ya dimana-mana hehe.). Itupula mungkin yang mengakibatkan pertumbuhan penjualan dari Big Mac terus meningkat, gara-gara backpacker !! hahahah…
Nah, tahukah anda bahwa makanan yang kalo tidak hati-hati ini bisa memuncratkan sauce ke baju anda?? salah ding, pertanyaannya bukan gitu (walaupun saya pernah mengalaminya ketika makan bersama klien, laper siy.), pertanyaannya begini :
Tahukah anda, bahwa big mac ini sudah menjadi bahan studi praktisi dan akademisi dalam beberapa dekade terakhir ini??
Tauuuuuuuuuuu…hihihi..
Kalo sudah tahu, tolong diklarifikasi yah..
Dahulu kala ketika mengambil kuliah International Finance, Big Mac ini pernah dibahas dalam materi Purchasing Power Parity. Dosen saya dulu adalah Pak Junino Jahja yang (sayangnya) hanya mengajar setengah semester hix..hix..karena pada saat yang sama beliau harus mengabdi ke KPK. Saat ini beliau sudah keluar dari KPK dan sekarang menjadi orang no.1 perusahaan pencetak uang rupiah yang anda pegang saat ini.
Studi kasus yang kita lakukan pada saat itu adalah tentang Big Mac Index, pada dasarnya adalah bagaimana melakukan penilaian secara apple to apple untuk nilai tukar suatu mata uang dengan mata uang lainnya. Maka dari itulah diperlukan suatu keranjang barang yang umum dipergunakan di seluruh dunia. Nah, Big Mac salah satu produknya (kapan yah kerak telor bisa kaya Big Mac).
Untuk mengetahui nilai intrinsik (sebenernya/sewajarnya) dari uang rupiah kita, dapat dilihat di Big Mac Indeks yang rutin diterbitkan oleh www.economist.com. Kalo kita melihat uang kita di tabel ini (July 2008), Di US harga Big Mac USD 3,57, sedangkan di Indonesia sebesar USD 2,04. Nah beda kan…ini yang menjadi inti Purchasing Power Parity, alias daya beli kita berbeda.
Berdasarkan data ini, dapat dikatakan bahwa satu dollar US adalah (hanya) sebesar Rp. 5.238,- itulah harga sebenarnya uang kita terhadap dollar menurut Big Mac Index. Lucu ya, jauh banget dengan yang dijual di pasar Rp. 9.152,-. Tapi sekali lagi, ini hanya nilai teoritis, karenanya anda harus menyesuaikan lagi agar lebih tepat. Any way, kenapa antara nilai intrinsic dan nilai pasar bisa jauh berbeda ya??
Hehhe malah ngasih PR yah…
Filed under: Umum




