Gado-Gado Ekonomi Kerakyatan

gadogadoSemalam saya tidur awal sekali sekitar jam 20.00an, sepulang dari mesjid langsung rebahan di kamar. Menjelang masuk peraduan, sayup-sayup terdengar berita Metro TV tentang pilpres mengenai ”keukeuhnya” masing-masing capres mengagungkan Ekonomi Kerakyatan. Untunglah ga terbawa mimpi, sayang sekali kalo mimpi malam itu masih berurusan dengan politik hehe..

Pagi tadi justru saya merenung sejenak, apa (sebenarnya) ekonomi kerakyatan itu? Apakah tokoh-tokoh itu mengerti betul mengenai bahasan ini? Atau, mungkin karena kata-kata ini paling enak dipublish untuk mencitrakan image yang merakyat?

Pertama kali yang terlintas dalam benak saya ketika mendengar ekonomi kerakyatan adalah pertanyaan. Rakyat yang mana? yang tertindas? siapa saja?

Literatur yang dulu dipelajari semasa kuliah memang sedikit yang membahas masalah ini. Justru saya banyak mempelajari hal ini ketika SD dan SMP, dari mulai butir-butir Pancasila, soko guru perekonomian, koperasi dan sejenisnya. Beberapa pengajar di UGM mencoba membuat studi penelitian mengenai ekonomi kerakyatan dengan menerbitkan buku-buku, jurnal-jurnal yang terkait dengan hal itu. Mereka melihat di zaman orde baru keberpihakan pemerintah justru pada konglomerat-konglomerat.

Ekonomi kerakyatan sendiri dipopulerkan sejak zamannya Soekarno-Hatta, kemudian menjadi komoditas politik karena semakin menarik untuk diperjualbelikan. Konsep sistem ekonomi yang dipelajari mahasiswa/i ekonomi pun di tahun pertama seringkali disuguhi dengan konsep ekonomi pasar. Dari mulai tulisannya Adam Smith sampai dengan ekonom-ekonom modern. Apakah Ekonomi Kerakyatan merupakan sesuatu yang berbeda dengan Ekonomi Pasar? Bila memang berbeda, ini sama saja memperumit konsep kita mengenai ekonomi.

Kenapa ekonomi pasar menjadi demikian terkemuka?

Fakta dan kenyataan yang terjadi adalah mendekati seperti itu, karena itu pula suatu teori diambil dari fakta yang ada, dan bukan sebaliknya. Negara-negara yang mengimplementasikan konsep ini memiliki pertumbuhan ekonomi menarik untuk dipelajari. Semakin sedikit intervensi pemerintah dalam mendistorsi keseimbangan pasar, semakin dewasa pula pasar mereka. Dalam halnya Indonesia, saya setuju dengan konsep keadilan yang dicetuskan dalam ekonomi kerakyatan. Namun bukan berarti mendistorsi keseimbangan pasar itu sendiri. Seleksi alam yang terjadi dalam pasar merupakan proses alamiah, yang pada akhirnya memberikan keseimbangan pasar.

Kita sering melihat saudara-saudara kita dari Padang, Madura, etnis Tionghoa dan daerah-daerah lainnya yang terkenal dengan keuletannya dalam berdagang. Mereka pula yang banyak berperan dalam menjalankan roda perekonomian. Ada sisi-sisi budaya yang memberikan pendorong dalam kegiatan mereka. Hal ini tercermin dalam pasar yang mereka masuki. Siapa yang dapat memberikan nilai lebih pada konsumen maka dialah yang memenangkan seleksi alam itu. Sekalipun ada pihak yang mencoba memanipulasi pasar, alam (pasar) akan dengan sendirinya memberikan koreksi, contohnya adalah resesi US yang dikarenakan krisis kredit.

Saya pikir ekonomi kerakyatan bukanlah sistem ekonomi baru, tetapi modifikasi dari ekonomi pasar yang ada. Dengan kata lain ada peran pemerintah untuk intervensi terhadap tujuan keadilan yang diinginkan. Kita seringkali melihat data-data statistik yang membohongi kita sendiri, misalnya pertumbuhan ekonomi. Rezim orde baru memberikan gambaran betapa melesatnya pertumbuhan ekonomi (bahkan sempat mau lepas landas). Tetapi apa yang dirasakan masyrakat pada umumnya??

Tidak sebanding dengan angka statistik itu ! Data yang diberikan menunjukan pertumbuhan ekonomi dengan statistik yang semu, menggunakan nilai rupiah yang semakin hari semakin kerdil. Dalam akuntansi ada istilah apple to apple, istilah untuk menunjukan perbandingan yang fair. Rupiah pada saat saya belum lahir dan rupiah sekarang ini tidak bisa dijadikan ukuran perbandingan yang fair,begitupun dengan dollar. Perlu ada media yang sejak zaman Rasulullah digunakan, yaitu emas. Coba anda konversi data statistik pertumbuhan ekonomi sejak Soeharto Presiden hingga beliau lengser, anda akan melihat tingkat pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya.

Kini, saat semua capres saling berusaha menarik simpati anda semua (sebagai rakyat), kita juga perlu sedikit kritis terhadap apa yang mereka janjikan, termasuk Ekonomi Kerakyatan. Karena mereka adalah pemimpin dari rakyat yang tidak bodoh !

3 Responses

  1. Ekonomi kerakyatan versi rakyat ato versi politisi, pak..?
    Semuanya khan kudu jelas..

  2. Gado-gado emang enak tapi klo gado-gado soal sistem ekonomi, duh enek kali ya..ga jelas adop mana..tp hasilnya jelas…ancur minah :D

  3. @syelviapoe3 :
    Definisinya dah jelas baik untuk orang politisi maupun rakyat hehe.. ga ada dua definisi ko.. yang membedakan itu kepentingannya.

    @fras :
    Seneng gado2 yah?? hehe
    Inilah yang jadi ribet.. ketika konsep dibahas setengah2, analisanya pun setengah2..

Leave a Reply