Andaikan dahulu ketika itu dosen saya menjawab apa yang saya tanyakan, mungkin persoalan akan jadi lebih mudah. Saya menanyakan sesuatu yang sederhana, kenapa bagian keuangan selalu tidak kompak dengan bagian marketing/produksi??
Waktu itu mata kuliah yang dibahas adalah mengenai balanced scorecard dan pembahasan menjadi menarik ketika menentukan siapa yang bertanggung jawab untuk suatu target. Pertanyaan saya di atas mungkin sama halnya dengan pertanyaan kenapa orang teknik selalu bersinggungan dengan orang nonteknik, atau kenapa selalu ada dikotomi antara orang IPA dengan orang IPS, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang seringkali terpintas dalam keseharian kita.
Kenyataannya hari ini problem itu menjadi cukup menyita waktu. Namun, bukan manusia kalo tanpa akal hehe.. dan itu yang menjadi menarik. Setiap perusahaan yang saya masuki biasanya mempunyai warna sendiri dalam memperlakukan kondisi ini. Ada yang lebih dewasa, namun banyak juga perusahaan yang kelihatannya sudah senior namun mempelakukan kondisi seperti ini dengan tidak dewasa.
Mungkin keberadaan antara dua pihak yang beringgungan ini juga memang sengaja dihadirkan. Maksut saya begini, mereka memang bukan untuk dihilangkan konfliknya, tapi untuk dijaga agar fungsi kontrol selalu ada dalam suatu organisasi.. sepertinya teorinya begitu.
Coba anda bayangkan ketika memasuki perusahaan manufaktur, kental sekali mindset tekniknya. Tetapi coba anda masuki perusahaan jasa konsultasi, mindset manajemen lebih kental dibanding teknik. Ini memang sudah lumrah, dan bagi siapapun leader yang bisa meramu dua kubu seperti ini maka hasilnya adalah suatu perusahaan yang kuat bahkan leader di industrinya.
Perdebatan pun muncul sejalan dengan semakin bertambahnya tantangan dari pihak eksternal. Menurut pengalaman saya, ketika SDM dari masing-masing kubu sama-sama kuat maka yang terjadi adalah optimalisasi fungsi SDM di suatu organisasi. Namun hal ini akan menghasilkan sesuatu yang berbeda ketika karakteristik perusahaan tersebut mendukung salah satu kubu. Misalnya perusahaan manufaktur akan mudah untuk menampung aspirasi orang-orang teknik, perusahaan jasa konsultan mungkin lebih mengedapankan mindset manajemen.
Tapi yang menarik bila terjadi anomali. Coba anda bayangkan seorang Dahlan Iskan yang bakcgroundnya pers bisa menjadi leader BUMN-BUMN. Seorang Hatta Rajasa yang orang teknik menjadi ujung tombak perekonomian bangsa. Seorang orang daerah Abraham Samad menjadi tulang punggung pemberantasan korupsi di negri ini. Keren kan?
Ok, saya mungkin akan menghadirkan suatu solusi dari tulisan ini. Begini, setiap orang akan memilih fokus profesinya masing-masing, apakah itu terpaksa atau tidak. Seorang mungkin bakat seninya kuat tapi dia harus menjadi seorang pedagang. Seorang yang banyak sekali kehalian artisitiknya akhirnya menjadi seorang PNS. Bisa jadi memang seorang yang bercita-cita menjadi dokter dan akhirnya kesampaian juga. Namun ketika ia memasuki lingkungan persaingan yang baru…. maka tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi kenapa terjadi ketidakcocokan. Karena ketidakcocokan adalah masalah, dan masalah adalah kerjaannya orang hidup hehehe….